Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [7]
Topik Pembahasan Ketiga
Pertengahan Ahlus Sunnah diantara Kelompok-Kelompok Menyimpang [Bagian 2]
Setelah Syaikh Prof. DR. Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin hafidzahullah
menyampaikan 2 ushul yang menjadi ciri pertengahan aqidah ahlus sunnah
dalam masalah aqidah diantara kelompok-kelompok yang menyimpang, maka
beliau hafidzahullah melanjutkan menyampaikan ushul yang selanjutnya
[3] Ushul Ketiga : Masalah Qodho’ dan Qodar
Ciri pertengahan khusus yang dimiliki oleh Ahlu Sunnah wal Jama’ah
dalam masalah qodho’ dan qodar ini merupakan pertengahan dari dua
kelompok ekstrim yaitu Qodariyah dan Jabariyah. Yang mana qodariyah
merupakan kelompok yang meniadakan/menihilkan adanya qodar, mereka
mengatakan, “Sesungguhnya (seluruh) perbuatan hamba, keta’atan dan maksiat yang mereka kerjakan tidak terdapat dalam qodho’ dan qodar Allah”.
Maka Allah menurut anggapan mereka tidaklah menciptakan perbuatan
hambaNya dan tidak pula ada masy’iah/keingingan Allah terhadap perbuatan
hambaNya, akan tetapi menurut mereka perbuatan hamba adalah suatu yang
berdiri sendiri tidak tergantung pada kehendak Allah melainkan hanya
tergantung pada kehendak hamba. Dengan kata lain mereka menganggap
hambalah yang menciptakan/mengadakan perbuatan mereka sendiri tanpa ada
keterkaiatan dengan kehendak Allah. Maka dengan kayakinan/aqidah
mereka ini secara tidak langsung maka mereka telah menetapkan pencipta
(lain) di alam semesta ini bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan hal ini merupakan kesyirikan terhadap masalah rububiyah Allah[1].
Dengan keyakinan sesat mereka ini maka mereka memiliki sisi kesamaan
dengan kaum majusi yang mana mereka (kaum majusi) mengatakan, “Di alam
semesta terdapat dua pencipta[2]”. Oleh karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan,
الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الأُمَّةِ الْمُكَذِّبُونَ بِأَقْدَارِ اللَّهِ إِنْ مَرِضُوا فَلاَ تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلاَ تَشْهَدُوهُمْ
“Qodariyah adalah majusinya ummat ini (ummat islam), mereka adalah orang yang mendustakan qodar Allah jika mereka sakit maka janganlah kalian menjenguknya dan jika mereka mati maka janganlah kalian menghadiri pemakamannya”[3].
Sedangkan Jabariyah yang merupakan kebalikan dari Qodariyah memiliki
keyakina/aqidah bahwa sesungguhnya hamba dipaksa (Allah) untuk melakukan
perbuatan mereka. Mereka (Jabariyah) menganggap bahwa hamba Allah
seperti bulu yang ada di udara yang tidak memiliki kemampuan dan
keinginan untuk melakukan perbuatan mereka.
Maka di tengah dua kelompok yang menyimpang ini Allah berikan hidayah
kepada Ahlu Sunnah. Maka mereka (Ahlu Sunnah) menetapkan bahwa sesungguhnya
hamba merupakan pelaku hakiki perbutan mereka sendiri dan perbuatan
mereka dinisbatkan/disandarkan kepada mereka secara hakiki namun
perbuatan hamba terjadi dengan takdir dan masyi’ah/kehendak Allah maka
Allah Subahanahu wa Ta’ala merupakan pencipta hamba sekaligus pencipta perbuatan mereka, sebagaimana firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat[4]”.(QS. Ash Shoffat : [37] 96).
Sebagaimana bagi manusia ada masyi’ah/keinginan demikian pula bagi Allah ada masyi’ah/kehendak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (istiqomah dan bertauhid) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”.(QS. At Takwir : [81] 29).
Bersamaan dengan hal tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para hambaNya untuk ta’at kepadanNya dan RosulNya serta Allah larang untuk berbuat maksiat kepadaNya. Allah ‘azza wa jalla telah
menegakkan hujjah kepada hamba-hambaNya dengan mengutus para rosul dan
diturunkannya Al Qur’an maka barangsiapa yang ta’at kepadaNya berarti ia
telah ta’at kepada Allah di atas bayyinah/hujjah dan atas kehendaknya sendiri
maka ia berhak mendapatkan balasan yang baik dari Allah. Demikian juga
barangsiapa yang berbuat maksiat kepada Allah berarti ia telah berbuat
kemaksiatan di atas bayyinah/hujjah dan atas kehendaknya sendiri maka ia berhak mendapatkan hukuman dari Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) kembali pada dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) kembali pada dirinya sendiri. Dan sekali-kali tidaklah Rabbmu berbuat kedholiman pada hamba-hambaNya.”.(QS. Fushilat : [41] 46).
Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman kepada qodho dan qodar dalam 4 tingkatan yang terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah :
[1]. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui atas semua perkara yang telah terjadi, perkara yang akan terjadi dan atas apa yang akan dikerjakan mahlukNya sebelum Dia menciptakan mereka.
[2]. Pencatatan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang semua perkara yang akan terjadi di Lauhil Mahfudz 5o.ooo tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.
[3]. Masyi’ah/kehendak Allah pasti terjadi, Qudroh Allah yang meliputi segala sesuatu. Segala sesuatu yang diinginkan Allah pasti terjadi dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki Allah pasti tidak terjadi. Demikian juga semua yang terjadi maka Allah pasti menghendakinya sebelum hal tersebut terjadi.
[4]. Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menciptakan segala sesuatu. Maka Allahlah satu-satunya yang menciptakan pelaku suatu perbuatan sekaligus perbuatan tersebut, seluruh benda yang bergerak beserta gerakannya, dan seluruh benda yang diam beserta diamnya.
Sekian apa yang beliau hafidzahullah sampaikan berkaitan
dengan ushul ketiga ini dengan sedikit peringkasan dari kami. Namun
tidaklah salah jika kami sampaikan syair yang dibuat seorang imam besar
yang memiliki tempat tersendiri di kalangan umat muslim di negeri kita,
Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rohimahullah berkaitan dalam masalah qodho dan qodhar.
( مَا شِئْتَ كَانَ وَ إِنْ لَمْ أَشَأْ … وَ مَا شِئْتَ إِنْ لَمْ تَشَأْ لَمْ يَكُنْ )
( خَلَقْتَ العِبَادَ عَلَى مَا عَلِمْتَ … فَفِيْ العِلْمِ يَجْرِي الْفَتَى وَ الْمُسِنْ )
( عَلَى ذَا مَنَنْتَ وَ هَذَا خَذَلْتَ … وَ هَذَا أَعَنْتَ وَ ذَا لَمْ تُعِنْ )
( فَمِنْهُمْ شَقِيٌ وَ مِنْهُمْ سَعِيْدٌ … وَ مِنْهُمْ قَبِيْحٌ وَ مِنْهُمْ حَسَنٌ )
Apa Yang Engkau Kehendaki Pasti TerjadiKendatipun Tidak Aku Hendaki,Apa Yang Aku KehendakiJika Engkau Tidak Hendaki Pastilah Tidak Terjadi,Telah Engkau Ciptakan Hamba-HambaMu Seseuai Dengan IlmuMu,Di Dalam IlmuMu Berlangsung Kehidupan Orang Muda dan TuaKepada Ini Engkau AnugrahkanKepada Itu Engkau Tiada Kau AnugrahkanYang Ini Kau TolongYang itu Kau BairkanDiantara Mereka Adanya SengsaraDinatara Mereka Ada Pula Yang BahagiaDiantara Mereka Ada Yang BurukDiantara Mereka Ada Pula Yang Baik[5]
[1] Lihat pengertian tauhid ini serta rinciannya secara ringkas beserta dalilnya di www.alhijroh.com dengan judul “Mentauhidkan Allah tetapi Musyrik”.
[2] Yaitu pencipta perbuatan baik dan buruk.
[3] HR. Abu Dawud no.4691 , Ibnu Majah no. 92. Lafadz di atas adalah teks riwayat Ibnu Majah. Hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani rohimahullah dalam takhrij beliau untuk Sunan Abu Dawud.
[4] Tentang ayat ini Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan, “Idhofah/penyandaran
perbuatan kepada manusia dalam ayat ini memberikan konsekwensi bahwa
manusia adalah adalah pelaku hakiki dari perbuatan mereka”. Beliau melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan, “Maka manusia secara hakiki merupakan pelaku yang melakukan dan memilih untuk melakukan suatu perbuatan”. Kemudian di akhir penjelasan beliau mengatakan, “Ahlus Sunnah mengatakan,
“Sesungguhnya manusia pada diri mereka ada kemampuan/qudroh, hak memilih/ihtiyar, dan keinginan untuk merealisasikan atas amal mereka akan tetapi yang menciptakannya dan yang menciptakan kemampuan/qudroh dan keinginan/irodah adalah Allah. Maka perbuatan manusia disandarkan/diidhofahkan kepada Allah menunjukkan bahwa perbuatan manusia itu adalah ciptaan Allah sekaligus merupakan takdir Allah, perbuatan disandarkan/diidhofahkan kepada manusia sebagai keinginan untuk merealisasikan atas amal mereka dan mereka adalah pelaku perbuatan tersebut secara langsung. Dengan kata lain amal/perbuatan itu disandarkan/diidhofahkan kepada hamba dari satu sisi dan disandarkan/diidhofahkan kepada Allah dari sisi lain”. [Lihat Tafsir Surat Ash Shoffat oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 216, terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA]
[5] Lihat At Tadzkiroh oleh Al Qurthubi rohimahullah hal. 42 Asy Syamilah, lihat juga Manhaj Al Imam Asy Syafi’i fi Itsbatil Aqidah oleh DR. Muhammad Abdul Wahab Al ‘Aql hal. 434/II, terbitan Adwaus Salaf, Riyadh, KSA.
Sumber : www.alhijroh.com

0 komentar:
Posting Komentar