Kaidah Ketujuh Metode Al Qur’an dalam Penetapan Kenabian Muhammad
shallallahu ‘alaihi was sallam
Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung yang allloh shallallahu ‘alaihi was sallam menetapkannya dalam KitabNya dengan berbagai metode yang sehingga dengannya dapat diketahui kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam secara sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam membenarkan
para rasul sebelumnya, menyerukan apa yang diserukan para rasul
sebelumnya. Demikian juga seluruh kebaikan yang ada pada rosul terdahulu
maka hal itu terkumpul dalam diri Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam demikian juga seluruh sifat buruk dan sifat yang kurang mulia/ sifat yang naqis yang para Nabi tersucikan darinya maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah
orang yang paling awal dan paling layak tersucikan dari sifat-sifat
tersebut.
Demikian juga Allah beritakan bahwasanya syari’at yang beliau
shallallahu ‘alaihi was sallam bawa merupakan syari’at yang
menghakimi syari’at terdahulu dan kitab yang Beliau bawa adalah kitab
yang menghakimi kitab-kitab sebelumnya. Maka semua kebaikan dalam
agama-agama dan dalam kitab-kitab terdahulu telah terkumpul dalam agama
ini (islam, pent.) dan kitab ini (Al Qur’an, pent.).
Bahkan agama dan kitab yang beliau bawa merupakan yang tertinggi dengan
kebaikan-kebaikan dan sifat-sifat yang belum terdapat dalam kitab-kitab
dan agama-agama sebelumnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwasanya Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam adalah benar-benar NabiNya dengan Allah jadikan Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam sebagai
orang yang tidak bisa membaca dan menulis dan tidak pernah duduk untuk
belajar kitab terdahulu dengan seorang ahli ilmu.
Bahkan manusia
tidaklah dikagetkan sampai datangnya Beliau dengan membawa Al Qur’an
yang seandainya manusia dan jin bersatu untuk mendatangkannya dengan
yang semisal, bahkan hal itu di luar kemampuan mereka walaupun mereka
saling tolong menolong untuk melakukannya. Sesungguhnya hal tersebut
adalah suatu hal yang mustahil jika Al Qur’an itu adalah buatan Beliau
sendiri atau Beliau berani mencatut nama Allah (tanpa ada wahyu dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala pent.)atau salah sangka dengan wahyu yang datang pada Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam, Allah ‘azza wa jalla mengulang-ulang metode ini dan menampakkannya dalam Al Qur’an. Allah ‘azza wa jalla juga menetapkan kerasulan Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan
Beliau dapat mengabarkan kisah-kisah para Nabi yang terdahulu
sebagaimana yang sebenarnya secara panjang lebar yang kabar tersebut
tidak ada ada seorangpun yang meragukannya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan bahwasanya tiada cara bagi Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam untuk mendapatkan berita tersebut kecuali wahyu dari Allah ‘azza wa jalla sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan kisah Nabi Musa ‘Alahis Salam secara panjang lebar,
وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّورِ إِذْ نَادَيْنَا وَلَكِنْ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan”. ( Al Qoshosh [28]: 44).
Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ
“Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa”. (Ali Imron [3] : 44).
Demikian juga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kisah Nabi Yusuf dan Saudaranya secara panjang lebar, Allah ‘azza wa jalla berfirman,
ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ
“Demikian itu (adalah) di antara berita-berita yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya”. (Yusuf [12] : 102).
Maka hal ini merupakan perkara-perkara, berita-berita yang terperinci yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakannya
secara terperinci yang tidaklah mungkin ahlul kitab pada zamannya dan
setelahnya untuk mendustakannya. Dan hal ini tidaklah ada pertentangan
bahwa hal ini merupakan bukti terbesar bahwasanya Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam adalah benar-benar utusan Allah ‘azza wa jalla.
Terkadang Allah ‘azza wa jalla menetapkan kenabian Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan menyebutkan kesempurnaan hikmah dan kekuasaanNya[1]. Demikian juga dengan pertolonganNya kepada RasulNya terhadap musuh-musuh beliau, memberian kekuasaan kepada Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam di muka bumi dengan setinggi tinggi puncak kekusaan merupakan hal yang sangat mencocoki hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala[2]. Maka barangsiapa yang mencela ajaran yang Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam bawa maka sungguh dia telah mencela hikmah dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikianlah pertolongan Allah yang sangat luar biasa kepada Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam terhadap kaum-kaum yang notabene mereka adalah kaum-kaum yang terkuat di muka bumi maka hal ini merupakan tanda (benarnya, pent.) ajaran Beliau, tanda keesaan Allah ‘azza wa jalla sebagaimana yang dapat terlihat dengan jelas bagi orang yang merenungkan (Al Qu’an, pent.).
Terkadang Allah ‘azza wa jalla menetapkan kenabian Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan menyebutkan sifat yang sempurna, ahlak yang mulia yang Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam miliki. Dan bahwasanya seluruh ahlak yang mulia dan luhur maka hal itu telah terdapat dalam diri Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dalam
bentuk yang paling tinggi dan mulia. Diantara sifat mulia yang Beliau
mengungguli seluruh mahluk adalah ash shidqu ( kejujuran ). Maka
bukankah ini adalah sebesar-besar bukti bahwasanya Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam adalah utusan Rob semesta alam dan mahluk pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari seluruh mahluk ?
Terkadang Allah ‘azza wa jalla menetapkan kenabian Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan
khabar-khabar yang terdapat dalam kitab kaum-kaum yang terdahulu,
berita dari para Nabi dan Rasul sebelumnya baik berupa nama dari
nama-nama yang Beliau miliki[3], sifat-sifatnya yang mulia, sifat- sifat ummatnya dan sifat- sifat agama yang Beliau bawa.
Terkadang Allah ‘azza wa jalla menetapkan (benarnya, pent.) ajaran Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan
Allah berikan kemampuan pada Beliau untuk mengabarkan berita ghaib yang
terjadi pada masa yang lalu, masa yang akan datang, berita ghaib yang
terjadi pada zaman Beliau dan berita ghaib yang akan terus terjadi. Maka
kalaulah bukan wahyu dari Allah sudah barang tentu tidak akan ada cara
untuk mengatahui hal tersebut bagi Beliau apatah lagi bagi orang selain
Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam.
Terkadang Allah ‘azza wa jalla menetapkan kenabian Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan
perlindungan Allah kepada Beliau walaupun bersamaan dengan keberanian
yang terang-terangan yang diperlihatkan musuhnya disertai kesungguhan
dan kesempurnaan perlawaan mereka terhadap Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam, Allah ‘azza wa jalla tetap menolong dan melindunginya!! Maka hal ini tidaklah dapat dipalingkan selain karena Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam adalah
utusanNya yang benar dan karena Beliau adalah orang yang telah
mendapatkan amanat dari Allah untuk menyampaikan risalahNya.
Terkadang Allah ‘azza wa jalla menetapkan kenabian Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan menyebutkan hal yang paling agung yang Beliau bawa, yaitu Al Qur’an yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman,
لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. (Fussilat [41] : 42).
Dan Allah tantang orang yang mengingkari Al Qur’an untuk membuat
sepuluh surat, satu surat bahkan satu ayat saja yang semisal Al Qur’an
maka ternyata mereka tidaklah mampu bahkan gagal dan kalah!! Dan Al
Qur’an ini adalah sebesar-besar, setinggi-tinggi dan
seluas-luas/seumum-umum bukti[4] akan benarnya ajaran yang Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam bawa.
Terkadang Allah ‘azza wa jalla menetapkan (benarnya, pent.) ajaran Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan Allah tunjukkan pertolonganNya berupa mu’jizat-mu’zijat[5] (yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan pada Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam pent.).
Allah berikan bagi Beliau kemampuan- kemampuan luar biasa,
karomah-karomah yang satu saja dari hal tersebut menunjukkan kepada hal
yang satu bahwasanya Beliau adalah benar-benar utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala –Maka bagaimanakah lagi apabila seluruh hal tersebut terkumpul pada diri Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam – yang Beliau adalah ash shodiqul[6] masduq[7] yang tidaklah dia bicara karena hawa nafsu melaikan hanya berupa wahyu yang diwahyukan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Terkadang Allah ‘azza wa jalla menetapkan kenabian Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan
keagungan rasa belas kasih Beliau kepada mahluk-mahluk Allah dan kasih
sayang yang sempurna kepada ummatnya. Sesunggunhya Beliau adalah orang
yang terhadap kaum mu’minin sangat lemah lembut yang tidak ada bahkan
tidak akan pernah ada seorangpun dari mahluk Allah yang begitu agung
rasa kasih sayangnya melebihi rasa kasih sayang, kebaikan dan
sifat-sifat baik Beliau. Dan tanda/bukti akan hal ini sangat jelas bagi
orang yang mau menelaah sejarah Beliau.
Maka inilah perkara-perkara dan metode-metode yang banyak Allah
sebutkan dalam kitabNya yang mulia dan Allah menetapkannya dengan
perumpamaan-perumpamaan yang beragam dan makna-maknanya yang terperinci,
gaya bahasa yang menakjubkan dalam contoh yang tidak terhitung
jumlahnya.
Allahu a’lam.
[1] Karena sudah menjadi sunnatullah bahwa Allah ‘azza wa jalla akan menghinakan orang-orang yang mengaku bahwasanya dirinya adalah Nabi dengan Allah matikan mereka dengan keadaan hina, semisal Mirza Ghulam Ahmad yang Allah matikan secara hina di tempat yang hina yaitu di tempat buang air. Naudzubillahi min dzalik. Allahu A’lam. [2] Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Ash Shof,
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
[3] Sebagaimana perkataan Nabi Isa ‘alaihis salam yang Allah abadikan dalam Al Qur’an dalam surat Ash Ashof ayat keenam :“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci”. (Ash Shof [61] : 9).
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
Tentang nama Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam ini terdapat hadits muttafaqun alaih,“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad”. (Ash Shof [61] : 6).
إِنَّ لِى أَسْمَاءً ، أَنَا مُحَمَّدٌ ، وَأَنَا أَحْمَدُ ، وَأَنَا الْمَاحِى الَّذِى يَمْحُو اللَّهُ بِىَ الْكُفْرَ…..
[4] Tentang hal ini karena Al Qur’an bisa dibuktikan kebenarannya walaupun orang tersebut tidak hidup pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, tidak sebagaimana mu’jizat lain yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam. Allahu A’lam bish Showab, pent.“Sesungguhnya pada diriku banyak nama, Aku adalah Muhammad, Aku adalah Ahmad, Aku adalah Al Maahi (Penghapus) yang melalui aku Allah menghapuskan kekafiran”. (HR. Bukhori no. 4496, Muslim no. 6285).
[5]Sebagian para ulama berpendapat bahwa mu’jizat berbeda dengan kemampuan luar biasa dan karomah, diantara mereka adalah penulis sendiri, Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’di rohimahullah. Mereka mensyaratkan pada mu’jizat harus dapat melemahkan orang-orang kafir sehingga dengan defenisi ini keluarnya air dari jari Beliau yang mulia shallallahu ‘alaihi was sallam bukanlah mu’jizat melainkan karomah dari Allah ‘azza wa jalla. Allahu a’lam, pent.
[6] Yaitu orang yang mengabarkan berita yang benar.
[7] Yaitu orang yang diwahyukan kepadanya berita yang benar. Sehingga dari keterengan ini jelaslah keliru jika kata ash shodiqul masduq diterjemahkan dengan orang yang benar lagi dibenarkan. Allahu a’lam pent.
Sumber : www.alhijroh.com

0 komentar:
Posting Komentar