Kaidah Keenam
Metode Penetapan Tauhid dan Penafian/Peniadaan Kebalikannya dalam Al Qur’an[1]
Isi Al Qur’an secara keseluruhan hampir-hampir merupakan penetapan
terhadap tauhid dan penafian kebalikannya yaitu syirik. Allah ‘azza wa jalla menetapkan
tauhid uluhiyah dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah yang tidak ada
sekutu baginya pada banyak ayat dalam Al Qur’an. Allah ‘azza wa jalla juga
mengabarkan bahwasanya seluruh utusan Allah menyerukan kepada kaumnya
agar hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu
apapun. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya–mentauhidkanNya, pent.-.
Demikian juga seluruh rasul & kitab yang mereka bawa sepakat
terhadap hal yang sangat dasar ini yang merupakan fondasi yang paling
mendasar dari seluruh dasar. Barangsiapa yang tidak tunduk terhadap
ajaran ini yaitu mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah maka
seluruh amalannya adalah amalan yang bathil. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah seluruh amalmu”. (Az Zumar : 65).
Juga firman Allah ‘azza wa jalla,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Al An’am : 88).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerukan
kepada hamba-hambanya agar menetapakan apa yang sesuai fitroh dan akal
mereka yaitu, siapa yang Maha Esa dalam hal penciptaan, pengaturan,
pemberi nikmat yang tampak dengan panca indra ataupun tidak maka
tidaklah layak diibadahi kecuali hanya Dia. Sesungguhnya seluruh mahluk
tidaklah ada pada mereka kemampuan untuk mencipta, memberikan
kemanfaatan, mencegah marabahaya dan tidaklah mereka sanggup melakukan
hal tersebut kecuali hanya Allah ‘azza wa jalla semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru
mahluk-mahluknya kepada hal yang mendasar ini dengan cara memuji
Dirinya yang Maha Mulia yang Dialah satu-satunya Dzat yang memiliki
keesaan dengan berbagai sifatNya yang agung, mulia dan sempurna.
Sesungguhnya Dzat hanya ada padaNya kesempurnaan mutlak yang tidak ada
tandingan baginya adalah Dzat yang paling berhak/layak untuk
diikhlaskan/dimurnikan seluruh amalan kapadaNya baik yang terlihat
ataupun yang tersembunyi. Allah menetapkan baginya tauhid ini baginya
bahwasanya Dia adalah satu-satunya yang berhak menetapkan hukum. Maka
janganlah seseorang menjadikan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai hakim, baik itu hukum syar’i ataupun hukum yang berkiatan dengan balasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
“Keputusan/hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia”. (Yusuf : 40).
Terkadang Allah menetapkan tauhid ini dengan menyebutkan
kebaikan-kebaikan tauhid bahwasanya itulah agama yang satu yang wajib
secara syar’i, akal dan fitroh terhadap semua hamba dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan kejelekan-kejelekan syirik, keburukannya dan hilang/rusaknyanya akal sehat[2], agama, terbaliknya hati, kebimbangan hati dan kacaunya keadaan hati orang yang melakukan kesyirikan.
Terkadang Allah ‘azza wa jalla menyerukan tauhid dengan
menyebutkan balasan yang baik di dunia maupun di akhirat yang Allah
kaitkan dengan tauhid serta kehidupan yang baik dalam tiga alam[3].
Terkadang Allah juga menyebutkan kebalikannya yaitu syirik dengan
balasan/akibat buruk yang Allah segerakan di dunia dan Allah tunda di
akhirat bagi para pelakunya. Demikianlah Allah gambarkan keadaan mereka
dengan sejelek-jelek akibat & keadaan.
Ringkasnya semua kebaikan yang disegerakan di dunia dan tertunda di
akhirat maka sesungguhnya hal itu adalah buah dari tauhid. Demikian juga
semual keburukan yang disegerakan di dunia dan tertunda di akhirat maka
sesungguhnya itu merupakan buah dari kebalikannya yaitu syirik. Allahu
A’lam.
[1] Diterjemahkan dari kitab al Qowaidul Hissan Hissan al Muta’alliqtu bi Tafsiril Qur’an oleh Syaikh Abdur Rohman bin Nashir as Sa’diy rohimahullah hal. 25-26, terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA. [2] Sebagaimana dalam firman Allah,
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
[3] Yakni keadaan dunia, keadaan di alam kubur, dan keadaan di akhirat pent.“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Al Mulk : 10).
Sumber : www.alhijroh.com

0 komentar:
Posting Komentar