Senjata Ampuh Di Kala Susah
Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.
Layaknya ujian penerimanaan karyawan. Calon karyawan akan dihadapkan pada sebuah permasalahan. Yang ingin dinilai oleh sang penguji adalah bagaimana orang tersebut mengaplikasikan ilmu yang dia miliki untuk menyelesaikan permasahan yang dihadapkan padanya. Itulah ujian masuk untuk mendapatkan sebuah pekerjaan.
Demikian pula ujian kehidupan, tentu kita pernah susah dan sedih. Berbagai macam respon seseorang ketika susah. Biasanya dari sinilah kita dapat mengukur diri kita, sudah seberapa kadar iman kita.
Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan 4 buah do’a ketika kita menghadapi kesusahan, kesedihan.
Pertama, hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma,
أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ketika susah biasanya mengucapkan,لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Agung, Yang Maha Santun. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Robb Arsy Yang Agung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Robb Langit, Bumi dan Arsy Yang Mulia”[1].
Kedua, hadits yang diriwayatkan dari Asma’ binti ‘Umais Rodhiyallahu ‘anha,
أَلاَ أُعَلِّمُكِ كَلِمَاتٍ تَقُولِينَهُنَّ عِنْدَ الْكَرْبِ أَوْ فِى الْكَرْبِ اللَّهُ اللَّهُ رَبِّى لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Maukah engkau (Asma’ binti ‘Umais) aku ajarkan sebuah kalimat yang (baik) engkau ucapkan ketika susah,اللَّهُ اللَّهُ رَبِّى لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Allah, Allahu Robbku, yang aku tidak akan menyekutukan Nya dengan sesuatu apapun”[2].
Ketiga, hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakroh Rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ : اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
“Do’a ketika susah adalah :اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
“Yaa Allah, Rahmat Mu lah yang aku harapkan, janganlah Engkau sandarkan diriku kepada diriku sendiri sekedip matapun. Perbaikilah perkaraku seluruhnya, tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau”[3].
Keempat, hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqosh Rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ هُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ : لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ . فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا مُسْلِمٌ رَبَّهُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ لَهُ
“Do’a ketika susah adalah :لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ
“Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zholim”.
Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdo’a dengan do’a ini tentang masalah apapun kepada Robbnya melainkan akan dikabulkan untuknya”[4].
Mungkin diantara dzikir yang disebutkan di atas ada yang sudah kita hafal. Namun kok masih susah, kok masih sedih ?
Maka jawabnya pada keterangan di bawah ini.
Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,
“Para ulama mengatakan, “Sesungguhnya mengucapkan dzikir yang disyar’iatkan (ada riwayatnya dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan Al Qur’an) tanpa adanya ilmu tentang maknanya dan tidak paham kandungannya maka pengaruhnya lemah dan faidahnya sedikit”.
Oleh sebab itu kita perlu memahami dzikir kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla[5].
Beliau juga mengatakan,
“Sekiranyanya kita mau berhenti sejenak, merenungkan kandungan 4 dzikir yang dikabarkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa keempatnya merupakan obat kesusahan maka kita akan dapati sesungguhnya keempatnya menuju pada satu hal. Yaitu merealisasikan tauhid yang karenanya seorang hamba diciptakan dan dia ada untuk merealisasikan tauhid tersebut. Tauhid mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhana wa Ta’ala dan mengikhlaskan keta’atan hanya kepada Nya. Hal tersebut merupakan perlindungan seseorang dikala susah dan sedihnya. Dia akan terus menerus susah dan sedih kecuali dia mampu merealisasikan tauhid, memohon perlindungan kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala dan mengikhlaskan amal keta’atan kepada Nya”[6].
Pada dzikir yang pertama,
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Agung, Yang Maha Santun. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Robb Arsy Yang Agung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Robb Langit, Bumi dan Arsy Yang Mulia”.
Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,
“(لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) mengingatkan tentang tauhid. Sesungguhnya dia hanya diciptakan untuk tauhid. Dia ada dengan tujuan tauhid dan diadakan untuk merealisasikan makna (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ). Agar dia menyibukkan hati, waktu dan hidupnya untuk tujuan merealisasikannya. Itulah tujuan penciptaannya. Oleh sebab itu seharusnya (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) merupakan keinginan terbesar seseorang, kesibukan terpentingnya, tujuan yang paling besarnya dan keinginan utamanya. Karena dia tidaklah diciptakan melainkan untuk itu, dia tidak akan ada kecuali untuk merealisasikan hal tersebut. Itulah tujuan penciptaannya”[7].
Kalimat (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) intinya adalah tauhid uluhiyah. Artinya anda, saya dan kita semua harus mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam peribadatan kita, termasuk ibadah hati berupa rasa takut, harap dan cinta.
Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,
“Maka orang yang mengucapkan (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) tidak akan berdo’a, meminta pertolongan ketika ada musibah, memohon perlindungan dan menyandarkan dirinya kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dia tidak akan bertawakkal, meminta kesembuhan atas kekhawatiran, kesusahan dan kesedihannya melainkan hanya kepada dari Allah”[8].
“Dzikir anda (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ) mengingatkan anda tentang keagungan Allah. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Besar, Dzat Yang Maha Mengatur, Dzat Yang Maha Tinggi dan Agung. Maka ini mengingatkan anda akan keagungan Allah, kesempurnaan kekuatan Nya, kemampuan Nya dan menyeluruh pengawasan Nya atas seluruh ciptaan Nya Subhana wa Ta’ala. Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang mampu melemahkannya di bumi dan di langit. Dzikir ini juga mengingatkan anda akan kesantunan Allah ‘Azza wa Jalla”[9].
Kelanjutan dzikir yang Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ajarkan,
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Robb Arsy Yang Agung”.
Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,
“Potongan selanjutnya mengingatkan akan penciptaan Arsy. Yang mana Arsy merupakan mahluk terbesar dan terluas. Oleh sebab itulah Arsy disebutkan dalam hadits ini dengan sifat agung. Arsy juga dishifati dengan shifat mulia yaitu makmur, mewah. Itulah Arsy mahluk terbesar dan terluas. Maka dengan ini ingatlah kita akan kebesaran Allah dengan mengingat mahluk Nya yang terbesar yang dicipatakan oleh Robb nya, Allah ‘Azza wa Jalla”[10].
“Potongan selanjutnya mengingatkan akan penciptaan langit dan bumi. Dia mengingatkan makna yang agung ini. Kalimat ini (penciptaan langit dan bumi) diulang-ulang sehingga hati orang yang mengucapkannya tersibukkan dengan penciptaan langit dan bumi. Hatinya terwarnai berisi penuh dengan penciptaan keduanya. Akhirnya jiwanya tersibukkan dengan hal ini. Maka kesedihan, kesusahan manakah yang tersisa selama hati seseorang tersibukkan dengan hal tersebut (keluarbiasaan penciptaan langit dan bumi –pent.) ?!”[11]
“Dari do’a ini dan yang semisal dapat kita ambil faidah dan kesimpulan bahwa obat sedih, gundah gulana adalah mentauhidkan Allah, berdzikir kepada Allah, mengagungkan Allah, mensucikan Allah dan kembali berlindung kepada Allah. Inilah obatnya”[12].
[1] HR. Bukhori no. 6346 dan Muslim no. 2703.
[2] HR. Abu Dawud no. 1525. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani.
[3] HR. Abu Dawud no. 5090. Hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani.
[4] HR. Tirmidzi no. 3505, dinilai shohih oleh Al Albani.
[5] Lihat Atsar Al Adzkar Syar’iyah fi Thordi Al Hammi wal Ghom hal. 9
[6] idem hal. 10.
[7] idem hal 11.
[8] idem hal. 12.
[9] idem.
[10] idem hal. 13.
[11] idem.
[12] idem.
Sumber : www.alhijroh.com









0 komentar:
Posting Komentar