Apakah Takdir Bisa Dihapus (?)
Segala puji kita haturkan kepada Allah Subhana wa Ta’ala Dzat Yang Maha Hikmah dan ilmuNya meliputi segala sesuatu. Sholawat serta salam semoga senantiasa terhatur kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kepada keluarga, sahabat dan umat beliau.
Mungkin ada sebagian orang yang ragu atau tidak paham mengenai takdir
ketika membaca sebuah ayat atau hadits dengan apa yang ia pahami selama
ini. Diantara ayat yang membuat sebagian orang bingung adalah ayat
Allah ‘Azza wa Jalla,
يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki)”. (QS. Ar Ro’du [13] : 39).
Jika rezki, ajal telah ditetapkan, tidak bertambah dan dikurangi maka
bagaimana hal ini jika dikomparasikan / dihadapkan dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang senang pintu rezki dibukakan untuknya (dilapangkan rezkinya) dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturahim”[1].
Maka jawabannya,
Takdir itu ada dua jenis :
[1]. Takdir yang tetap/mutsbit, muthlaq, mubrom/pasti. Takdir inilah yang ada di Lauh Al Mahfudz, maka takdir inilah yang tetap tidak berubah.
[2]. Takdir yang mu’allaq atau muqoyyad. Takdir inilah yang
ada di kitab malaikat. Maka takdir inilah yang dapat terjadi penetapan
dan penghapusan. Ajal, rezki, umur dan yang lainnya ada di Lauh Al
Mahfudz tetap dan tidak akan berubah. Adapun apa yang tertulis di kitab
malaikat maka bisa saja terjadi penghapusan dan penetapan, penambahan
dan pengurangan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah berkata,
وَالْأَجَلُ أَجَلَانِ ” أَجَلٌ مُطْلَقٌ ” يَعْلَمُهُ اللَّهُ ” وَأَجَلٌ مُقَيَّدٌ ” وَبِهَذَا يَتَبَيَّنُ مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ }.فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمَلَكَ أَنْ يَكْتُبَ لَهُ أَجَلًا وَقَالَ : ” إنْ وَصَلَ رَحِمَهُ زِدْتُهُ كَذَا وَكَذَا ” وَالْمَلَكُ لَا يَعْلَمُ أَيَزْدَادُ أَمْ لَا ؛ لَكِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَسْتَقِرُّ عَلَيْهِ الْأَمْرُ فَإِذَا جَاءَ ذَلِكَ لَا يَتَقَدَّمُ وَلَا يَتَأَخَّرُ .
“Ajal itu ada dua,
Pertama, ‘ajal muthlaq’ yang Allah lah yang mengetahuinya. Dan yang kedua adalah ‘ajal muqoyyad’. Maka dengan jenis yang kedua ini lah dapat dijelaskan makna hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang senang pintu rezki dibukakan untuknya (dilapangkan rezkinya) dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturahmi”[2].
Maka Allah akan memerintahkan malaikat agar mereka menetapkan ajal, dengan Allah firmankan kepada mereka ‘jika dia (orang yang takdirnya ditentukan) menyambung silaturahimnya maka tambahkan baginya ini dan itu, sedangkan malaikat tidak mengetahui apakah ajal orang tersebut bertambah atau berkurang. Namun Allah ‘Azza wa Jalla lah yang tahu perkara yang telah ditetapkannya. Jika ajal telah datang maka tidak dapat dipercepat atau ditunda”[3].
Syaikhul Islam Rohimahullah mengatakan dikesempatan lain,
الرِّزْقُ نَوْعَانِ :
أَحَدُهُمَا : مَا عَلِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ يَرْزُقُهُ فَهَذَا لَا يَتَغَيَّرُ .
وَ الثَّانِي مَا كَتَبَهُ وَأَعْلَمَ بِهِ الْمَلَائِكَةَ فَهَذَا يَزِيدُ وَيَنْقُصُ بِحَسَبِ الْأَسْبَابِ
“Rizki ada dua jenis,
pertama, rezki yang Allah (saja) yang mengetahuinya maka rezki ini tidak akan berubah.
Jenis yang kedua, adalah rezki yang ditetapkan dan diketahui malaikat. Maka rezki ini yang dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan sebabnya”[4].
Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,
كأن يقال للملك مثلا أن عمر فلان مائة مثلا أن وصل رحمه وستون إن قطعها وقد سبق في علم الله أنه يصل أو يقطع فالذي في علم الله لا يتقدم ولا يتأخر والذي في علم الملك هو الذي يمكن فيه الزيادة والنقص واليه الإشارة بقوله تعالى يمحو الله (يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ) فالمحو والإثبات بالنسبة لما في علم الملك وما في أم الكتاب هو الذي في علم الله تعالى فلا محو فيه البتة ويقال له القضاء المبرم ويقال للأول القضاء المعلق
“Diandaikan semisal Allah berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya umur Fulan seratus tahun –misalnya- jika dia menyambung tali silaturahim, jika tidak demikan maka umurnya delapan puluh tahun. Telah ditetapkan sebelumnya sesuai ilmu Allah apakah dia akan menyambung silaturahim atau tidak. Maka yang ada di ilmu Allah tidak akan dicepatkan dari waktu yang sudah ditentukan dan tidak pula diakhirkan. Adapun apa yang ada di malaikat maka mungkin bertambah dan berkurang. Hal ini telah diisyaratkan dalam firman Allah Subhana wa Ta’ala,
يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”. (QS. An Najm [13] : 39).
Maka kemungkinan adanya pengahapusan dan penetapan adalah catatan yang ada pada malaikat. Adapun yang ada di Ummul Kitab (Lauh Al Mahfudz) yaitu yang ada di ilmu Allah maka tidak ada pengahapusan sama sekali. Inilah yang dimaksud dengan takdir telah di tetapkan/pasti dan takdir yang dijelaskan sebelumnya (yang ada penetapan dan perubahan) disebut takdir mu’allaq”[5].
Ibnu Taimiyah Rohimahullah melanjutkan,
وَالْأَسْبَابُ الَّتِي يَحْصُلُ بِهَا الرِّزْقُ هِيَ مِنْ جُمْلَةِ مَا قَدَّرَهُ اللَّهُ وَكَتَبَهُ فَإِنْ كَانَ قَدْ تَقَدَّمَ بِأَنَّهُ يَرْزُقُ الْعَبْدَ بِسَعْيِهِ وَاكْتِسَابِهِ أَلْهَمَهُ السَّعْيَ وَالِاكْتِسَابَ وَذَلِكَ الَّذِي قَدَّرَهُ لَهُ بِالِاكْتِسَابِ لَا يَحْصُلُ بِدُونِ الِاكْتِسَابِ وَمَا قَدَّرَهُ لَهُ بِغَيْرِ اكْتِسَابٍ كَمَوْتِ مَوْرُوثِهِ يَأْتِيهِ بِهِ بِغَيْرِ اكْتِسَابٍ
“Selanjutnya sebab-sebab yang dengannya terwujud rezki maka hal itu merupakan bagian apa yang telah ditetapkan Allah dan telah ditulis Nya. Jika seseorang telah ditetapkan rezkinya atas apa yang dia kerjakan dan ia usahakan maka Allah akan mengilhamkan kepadanya untuk berusaha. Rezki yang telah Allah telah tetapkan kepadanya dengan sebab usaha maka rezki tersebut tidak akan terwujud tanpa usaha. Sedangkan rezki/hal yang Allah tetapkan atasnya tanpa adanya usaha semisal maut dan warisan maka hal ini dapat saja terwujud tanpa adanya usaha”[6].
Mudah-mudahan bermanfaat bagi kami sebagai tambahan amal dan pembaca
sebagai tambahan ilmu dan amal.
[Diringkas dari Kitab Al Iman bi Al
Qodho’ wal Qodar oleh DR. Muhammad bin Ibrohim Al Hamd hal. 181-183
terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, Riyadh. KSA]

0 komentar:
Posting Komentar