Hikmah Di Balik Ghaibnya Adzab Qubur
Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.
Mungkin kita pernah bertanya, mengapa Allah ‘Azza wa Jalla jadikan adzab qubur merupakan perkara ghoib ?
Diantara hikmahnya adalah apa yang disampaikan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah berikut,
“Hikmah dari Allah menjadikan adzab qubur termasuk perkara ghoib adalah :
Pertama, Sesungguhnya Allah Ta’ala merupakan Dzat Yang Paling Kasih Sayang Kepada Para Hamba Nya. Kalau seandainya kita dapat melihat adzab qubur tentu hidup kita akan susah.
Karena seorang manusia jika dia melihat ayahnya, saudaranya, anaknya,
istri-istrinya, karib kerabatnya sedang diadzab di qubur tentu dia tidak
akan sanggup dan lemas. Sehingga dia akan bersedih hati dan tidak mampu
beristirahat. Jadi (dijadikannya adzab qubur) diantara nikmat dari
Allah Subhana wa Ta’ala”.
“Kedua, Sesungguhnya adzab qubur merupakan ‘aib bagi sang mayit.
Maka seandainya mayit ini telah Allah tutupi dosa-dosanya antara dia
dan Allah sehingga kita tidak mengetahuinya. Kemudian setelah dia
meninggal dan Allah memperlihatkan adzab atasnya. Maka jadilah hal
tersebut menjadi ‘aib luar biasa baginya. Maka dijadikannya adzab qubur termasuk perkara yang ghoib merupakan kasih sayang Allah bagi sang mayit”.
“Ketiga, Boleh jadi seseorang akan menjadi kesulitan menguburkan mayit sebagaimana dikabarkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,
فَلَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Kalaulah bukan karena kalian akan berlari ketakutan sungguh aku akan berdo’a kepada Allah agar Dia memperdengarkan kepada kalian adzab qubur”[1].
Pada hadits ini terdapat kabar bahwa penguburan mayat mungkin menjadi
susah dan memberatkan serta tidak terlaksana (jika adzab qubur dapat
didengarkan manusia). Terlebih jika mayit yang akan dikuburkan merupakan
orang yang berhak mendapatkan adzab telah diadzab walaupun di atas
permukaan bumi. Akan tetapi boleh jadi orang-orang akan membayangkan
bahwasanya adzab qubur tidak terjadi melainkan ketika penguburan mayit.
Sehingga mereka tidak akan mau saling menguburkan (menguburkan orang
yang telah wafat diantara mereka –pen)”.
“Keempat, Sesungguhnya jika adzab qubur dapat dilihat secara zhohir maka tidak ada pembeda mengimaninya dan yang tidak mengimaninya. Karena sesuatu yang nyata terlihat tidak mungkin diingkari. Sehingga semua manusia akan beriman sebagaimana firman Allah Ta’ala,
فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آَمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Maka tatkala mereka melihat adzab Kami, mereka berkata, “Kami beriman hanya kepada Allah semata”. (QS. Ghofir/Al Mukmin [40] : 84)
Jika manusia melihat, mendengar mereka yang dikubur saling berteriak
minta tolong maka manusia akan beriman dan tidak ada yang ingkar. Karena
dia sudah yakin dengan adzab dan melihatnya dengan mata kepalanya
sendiri seolah-olah itu terjadi padanya. Hikmah Allah Subhana wa Ta’ala sangat agung. Seorang mukmin yang hakiki adalah orang yang benar-benar yakin khabar
(baca : keterangan) dari Allah melebihi keyakinannya terhadap hal yang
dia lihat sendiri dengan matanya. Karena berita dari Allah ‘Azza wa Jalla tidak
ada jalan atau kemungkinan adanya keraguan dan dusta/bohong. Sedangkan
hal yang kita lihat dengan mata kepala sendiri memungkinkan masih ada
keraguan tentang keadaan sebenarnya. Betapa banyak orang yang bersaksi
bahwasanya dia telah melihat hilal padahal yang dia lihat adalah
(cahaya) bintang ? Betapa banyak orang yang bersaksi bahwa dia telah
melihat hilal padahal yang dia lihat sebenarnya adalah seberkas cahaya
putih yang terpantul ? Ini semua adalah wahm/sangkaan lemah.
Betapa banyak orang yang melihat bayangan dan mengatakan bahwa yang dia
lihat adalah orang. Padahal yang sebenarnya itu hanya batang kurma.
Betapa banyak orang yang melihat benda yang (sebenarnya) diam namun dia
lihat sebagai sesuatu yang bergerak dan sebaliknya. Namun berita,
keterangan dari Allah tidak ada celah keraguan sedikitpun selamanya”.
[Diterjemahkan dari Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al
‘Utsaimin Rohimahullah hal. 33-34/II Terbitan Darul Wathon, Riyadh,
KSA.]
Mudah-mudahan menambah iman kita terhadap adzab qubur.
[1] HR. Muslim no. 2868.
Sumber : www.alhijroh.com





0 komentar:
Posting Komentar